Entah sudah kali keberapa kepergianmu kali ini…
Mendung dan gerimis menyelimuti Senin siang ini, kamarku
menjadi gelap dibuatnya, suara gemercik gerimis diluar jendela merambat pelan
ketelinga, sengaja aku tak menghidupkan lampu, aku ingin benar-benar merasa
sepi, beku sendiri, aku menatap langit-langit kamar, dan menatap layar
handphone yang baru saja bergetar karena pesan singkatmu. Aku membiarkan
pesanmu tanpa balasan dariku, dan beberapa kali aku membaca ulang pesan singkatmu tadi malam.
Kemarin sore aku masih melihatmu tapi bukan kamu yang dulu, kamu berubah tanpa
aku tahu apa yang sudah berubah.
Kemarin siang setelah beberapa minggu kepergianmu, tanpa kabarmu, kamu tiba-tiba datang tanpa rasa bersalah, hanya dua jam kamu dirumahku, kamu lalu berpamitan dengan Mamaku kamu berpamitan untuk pergi beberapa minggu ke Sulawesi, kampung halamanmu, aku tak menghiraukanmu bahkan melirikmu pun tidak, ada rasa kecewa yang masih tersimpan di ulu hatiku, kekecewaan yang tak kamu tanyakan, kebisuanku yang kamu anggap hal biasa. Tiba-tiba kamu menanyakan aku ingin kamu bawakan oleh-oleh apa? Aku masih diam, tak memperdulikanmu, lalu kamu berkata “Selamat bertemu di lain waktu” apa maksud dari kata-katamu, aku mencoba mencernanya, aku tetap diam, aku bisu, aku kelu. Ini bukan pertama kali kamu pergi, dan ini bukan pertama kalinya aku kecewa. Tapi kenapa kamu suka meninggalkanku? lalu kamu datang kembali dengan beribu janji dan harapan ilusi? Apa sekarang itu menjadi hobi barumu? Apa kamu tak pernah memikirkan bagaimana sakitnya dan bertahannya aku karena sikapmu itu? Kini lagi-lagi aku hanya bisa memeluk bayangmu dan menyentuhmu dengan tangan rindu. Berulang kembali hal yang tidak aku ingini.
Kemarin siang setelah beberapa minggu kepergianmu, tanpa kabarmu, kamu tiba-tiba datang tanpa rasa bersalah, hanya dua jam kamu dirumahku, kamu lalu berpamitan dengan Mamaku kamu berpamitan untuk pergi beberapa minggu ke Sulawesi, kampung halamanmu, aku tak menghiraukanmu bahkan melirikmu pun tidak, ada rasa kecewa yang masih tersimpan di ulu hatiku, kekecewaan yang tak kamu tanyakan, kebisuanku yang kamu anggap hal biasa. Tiba-tiba kamu menanyakan aku ingin kamu bawakan oleh-oleh apa? Aku masih diam, tak memperdulikanmu, lalu kamu berkata “Selamat bertemu di lain waktu” apa maksud dari kata-katamu, aku mencoba mencernanya, aku tetap diam, aku bisu, aku kelu. Ini bukan pertama kali kamu pergi, dan ini bukan pertama kalinya aku kecewa. Tapi kenapa kamu suka meninggalkanku? lalu kamu datang kembali dengan beribu janji dan harapan ilusi? Apa sekarang itu menjadi hobi barumu? Apa kamu tak pernah memikirkan bagaimana sakitnya dan bertahannya aku karena sikapmu itu? Kini lagi-lagi aku hanya bisa memeluk bayangmu dan menyentuhmu dengan tangan rindu. Berulang kembali hal yang tidak aku ingini.
Masih aku simpan dan beberapa kali aku baca pesan singkatmu
tadi malam, kamu berpesan agar aku menjaga diriku dan menjaga Mama, agar aku berhenti marah-marah.
Seharusnya kamu tahu kenapa aku melakukan itu, atau kamu memang sudah tahu dan
dengan sengaja melakukan itu padaku. Mungkin benar apa yang kamu tuliskan
dipesan singkatmu karena percuma, aku marah, aku meihatkan egoku, melihatkan
kecemburuanku, semua itu tetap tak membuatmu sadar, itu tak merubah keadaan,
dan tak merubah hatimu untukku, untuk menjadikan aku wanita satu-satunya
dihatimu. Kamu tetap bersama dia, selalu akan dia.
Aku menyadari bahwa ini semua memang harus berubah, kamu takkan pernah bisa meninggalkannya, dan aku harus memulai segalanya, memulai tanpa kamu seperti dulu saat kamu belum datang, aku akan memulainya perlahan. Aku harus kembali ke kehidupanku, ke duniaku, dan disana aku akan mencoba melakukan yang terbaik tapi aku tidak akan pernah melupakanmu.
Kamu juga harus tahu bahwa aku tak pernah bosan berbicara pada Tuhan. Berbicara tentang kamu, penipu ulung, kamu lelaki yang aku kenal namun tak aku pahami, lelaki cerdas tapi penuh kepalsuan, lelaki konyol dengan selera humor dan lelaki yang bisa membuat aku sesedih ini, namun itulah kamu. Aku seperti terlihat gila dihadapanNYA karena aku tertawa dan menangis menceritakan segalanya tentang kamu, tentang kebodohanku yang masih selalu memaafkanmu walaupun aku tahu kamu sudah banyak membohongiku, mengecewakanku, dan mematahkan hatiku walaupun sebenarnya Tuhan sudah tahu akan itu. Ini memang bukan pertama kalinya aku berucap ingin pergi darimu tapi entah kenapa kamu selalu datang dengan penuh harapan dan aku kembali terjebak dilubang janjimu yang kamu buat begitu rapi, dan tersembunyi.
Aku menyadari bahwa ini semua memang harus berubah, kamu takkan pernah bisa meninggalkannya, dan aku harus memulai segalanya, memulai tanpa kamu seperti dulu saat kamu belum datang, aku akan memulainya perlahan. Aku harus kembali ke kehidupanku, ke duniaku, dan disana aku akan mencoba melakukan yang terbaik tapi aku tidak akan pernah melupakanmu.
Kamu juga harus tahu bahwa aku tak pernah bosan berbicara pada Tuhan. Berbicara tentang kamu, penipu ulung, kamu lelaki yang aku kenal namun tak aku pahami, lelaki cerdas tapi penuh kepalsuan, lelaki konyol dengan selera humor dan lelaki yang bisa membuat aku sesedih ini, namun itulah kamu. Aku seperti terlihat gila dihadapanNYA karena aku tertawa dan menangis menceritakan segalanya tentang kamu, tentang kebodohanku yang masih selalu memaafkanmu walaupun aku tahu kamu sudah banyak membohongiku, mengecewakanku, dan mematahkan hatiku walaupun sebenarnya Tuhan sudah tahu akan itu. Ini memang bukan pertama kalinya aku berucap ingin pergi darimu tapi entah kenapa kamu selalu datang dengan penuh harapan dan aku kembali terjebak dilubang janjimu yang kamu buat begitu rapi, dan tersembunyi.
Gerimis ini menjadi saksi bisu betapa aku tak pernah
berhenti mendoakanmu, mendoakan setiap langkah perjalananmu, mendoakan
keselamatanmu, mendoakan setiap kebahagianmu, mendoakan apa yang terbaik untuk
hidupmu hingga aku sendiri lupa mendoakan diri ku sendiri, aku lupakan rasa
sakitku ketika aku sudah mulai berbicara pada sang Kuasa. Dan semoga dengan
kepergianmu kali ini kamu akan bosan, dan aku bisa menata hidupku kembali, menemukan apa yang selama
ini aku cari, dan kamu menyadari bahwa kamu tak perlu menggunakan egomu lagi untuk
menahan aku pergi., Selamat Jalan Tuan Mawasangka
Sampai jumpa dilain waktu,
semoga kita bertemu dimasa depan
dengan kehidupan yang membahagiakan...
13 Januari 2014
semoga kita bertemu dimasa depan
dengan kehidupan yang membahagiakan...
13 Januari 2014