Selasa, 11 November 2014

Meskipun bukan aku

   
      Air mata ini selalu saja menetes ketika aku menyebut namamu dalam doa, menceritakan semuanya saat aku bersujud dihadapanNYA.  Saat aku menuliskan ini, saat ini juga aku sedang mengingat awal pertemuan kita, dua setengah tahun yang lalu. Awal pertemuan yang tak pernah aku kira akan sejauh ini, sedekat dan sedalam ini.
Aku belum bisa menghentikan air mata ini, sungguh ia masih saja menetes. Ia masih saja belum habis, semakin deras seperti hujan diluar sana. Tulisanku mungkin terlihat lebay, mungkin jika kamu membacanya kamu akan muntah, lalu tertawa terbahak-bahak.

     Aku sedang mengingat semua hal tentang kita, tentang hari-hari indah kita, pertengakaran yang tak jarang kita hindari, ego masing-masing yang selalu ingin menang, tentang apa yang sudah kita lalui, tentang perjalan-perjalan kita,  panggilan-panggilan aneh, kekonyolan kita berdua yang sampai saat ini belum bisa aku artikan. Semua masih tersimpan apik dimemori otakku. Dan tentang beberapa hal yang bisa membuatmu menangis, kecewa dan terluka seperti saat kamu kehilangan sosok Ibu dalam hidupmu. Sungguh, aku semakin sesak jika mengingat cerita dalam hidupmu sebelum bertemu denganku . Aku tak tahu, masih adakah beban yang tersembunyi dalam hatimu yang belum sempat kamu ceritakan kepadaku, tapi menjadi pendengarmu adalah sebuah kesenangan tersendiri untukku, meskipun kadang kamu tak mendengar suara nafasku sesak karena ceritamu itu. Entah kenapa hal itu bisa terjadi, harusnya aku tak perlu sedalam itu, bukan? Karena aku masih bukan siapa-saiapmu dan mungkin tak akan pernah jadi siapapun di hidupmu.

     Aku tak memperdulikan rasa sakit ini ketika melihatmu bisa tertawa lepas, meskipun itu sedang kamu lakukan saat menyakitiku. Ingin sekali aku mendatangi dan menampar orang yang menyakitimu, atau yang bisa membuat matamu berkaca-kaca.  Saat melihat kamu terluka, dada ku merasa begitu sesak, rasa sakit itu juga aku rasakan lebih. Tapi, sekali lagi kamu tak akan pernah mendengar teriakan dalam jiwaku bahwa saat kamu merasa sakit, aku yang tersiksa melihatnya.
     Aku tak pernah memperdulikan sakitku, walau terkadang butiran bening itu keluar dari sudut mataku dan tak jarang kamu yang mengeringkannya. Sekarang ini yang terpenting bukan soal lukaku, tapi kesembuhanmu, bukan soal sakitku tapi kebahagianmu.

Aku ingin kamu bahagia, meskipun itu kamu lakukan dengan cara menyakitiku, meskipun bahagiamu nanti bukan bersamamu. Meskipun nanti, kamu akan menceritakan ceritamu kembali bukan dihadapan mataku, tapi dihadapan mata wanita lain. Asal kamu berjanji, kamu akan bahagia meski tanpa aku, meski orang yang nanti mendengar ceritamu tak seperti aku, tak sedalam aku yang mencintaimu saat ini dan nanti.