Air mata ini selalu saja menetes ketika aku menyebut namamu dalam doa, menceritakan semuanya saat aku bersujud dihadapanNYA. Saat aku menuliskan ini, saat ini juga aku sedang mengingat awal pertemuan kita, dua setengah tahun yang lalu. Awal pertemuan yang tak pernah aku kira akan sejauh ini, sedekat dan sedalam ini.
Aku belum bisa menghentikan air mata ini, sungguh ia masih saja menetes. Ia
masih saja belum habis, semakin deras seperti hujan diluar sana. Tulisanku mungkin terlihat lebay, mungkin jika kamu membacanya kamu akan muntah, lalu tertawa terbahak-bahak.
Aku sedang mengingat semua hal tentang kita, tentang
hari-hari indah kita, pertengakaran yang tak jarang kita hindari, ego
masing-masing yang selalu ingin menang, tentang apa yang sudah kita lalui,
tentang perjalan-perjalan kita,
panggilan-panggilan aneh, kekonyolan kita berdua yang sampai saat ini
belum bisa aku artikan. Semua masih tersimpan apik dimemori otakku. Dan tentang
beberapa hal yang bisa membuatmu menangis, kecewa dan terluka seperti saat kamu
kehilangan sosok Ibu dalam hidupmu. Sungguh, aku semakin sesak jika mengingat
cerita dalam hidupmu sebelum bertemu denganku . Aku tak tahu, masih adakah
beban yang tersembunyi dalam hatimu yang belum sempat kamu ceritakan kepadaku,
tapi menjadi pendengarmu adalah sebuah kesenangan tersendiri untukku, meskipun
kadang kamu tak mendengar suara nafasku sesak karena ceritamu itu. Entah kenapa
hal itu bisa terjadi, harusnya aku tak perlu sedalam itu, bukan? Karena aku
masih bukan siapa-saiapmu dan mungkin tak akan pernah jadi siapapun di hidupmu.
Aku tak memperdulikan rasa sakit ini ketika melihatmu bisa
tertawa lepas, meskipun itu sedang kamu lakukan saat menyakitiku. Ingin sekali
aku mendatangi dan menampar orang yang menyakitimu, atau yang bisa membuat
matamu berkaca-kaca. Saat melihat kamu
terluka, dada ku merasa begitu sesak, rasa sakit itu juga aku rasakan lebih.
Tapi, sekali lagi kamu tak akan pernah mendengar teriakan dalam jiwaku bahwa
saat kamu merasa sakit, aku yang tersiksa melihatnya.
Aku tak pernah memperdulikan sakitku, walau terkadang
butiran bening itu keluar dari sudut mataku dan tak jarang kamu yang
mengeringkannya. Sekarang ini yang terpenting bukan soal lukaku, tapi kesembuhanmu,
bukan soal sakitku tapi kebahagianmu.
Aku ingin kamu bahagia, meskipun itu kamu lakukan dengan
cara menyakitiku, meskipun bahagiamu nanti bukan bersamamu. Meskipun nanti,
kamu akan menceritakan ceritamu kembali bukan dihadapan mataku, tapi dihadapan
mata wanita lain. Asal kamu berjanji, kamu akan bahagia meski tanpa aku, meski
orang yang nanti mendengar ceritamu tak seperti aku, tak sedalam aku yang
mencintaimu saat ini dan nanti.