Jumat, 27 Desember 2013

Tak seperti biasanya


Beberapa hari ini perlakuannya mulai berbeda, dia tak sehangat dulu. Dia berlaku sesuka hati, sering berbicara padaku dengan nada tinggi, melihatkan kemarahnnya dan fellingku mengatakan banyak yang dia sembunyikan dari aku. Mungkin dia mulai muak dengan segala sesuatunya, dengan tuntutan yang aku inginkan, dengan kemarahanku yang terkadang tak terkontrol atau mungkin itu alasan yang tak dia sampaikan agar dia bisa pergi dari aku. Tapi bukan, bukan dia yang ingin pergi dari aku, tapi itu kemauanku.

Beberapa hari lalu aku melihatnya memegang blackberry, bukan blackberry yang biasanya dia gunakan, mungkin dia baru membelinya dan akupun tak tahu pinnya. Aku tak pernah memintanya, dua kali dia meminta pinku tapi aku tak memberinya bukan karna aku tak mau tapi aku hanya ingin tahu seberapa dia membutuhkanku saat dia jauh. Benda itu selalu ada didekatnya, hampir tak pernah lepas dari pandangannya. Dan kenyataanya memang dia tak seperti dulu, tak pernah lagi menelponku, menulis pesan singkat, atau sekedar menanyakanku sedang apa dan dimana, ketika dia diluar sana. Walaupun setiap hari aku bersamanya, menghabiskan banyak waktuku dengannya tapi semuanya sama saja, itu tak membuatku merasa bangga, atau tenang.
Aku pernah melihat status dibbm tertulis nama  “Mamanya Dodo” aku mencoba menanyakannya siapa itu, dia menjawab Mamanya dan Dodo adalah panggilan kecilnya. Aku mencoba mempercayainya walau hanya melalui kata “Owh”. Aku terlalu sering dia bohongi, hingga aku sulit membakitkan rasa percayaku lagi tapi aku selalu berusaha berfikir positif walau terkadang tak sejalan dengan kata hatiku.

Entahlah lelaki seperti apa yang aku hadapi ini, lelaki macam apa yang aku cintai ini? Kenapa penuh kebohongan, kenapa aku juga masih bisa memaafkan. Kenapa aku masih bisa bertahan sedangkan aku tahu dia telah berdua, kebodohan macam apa lagi yang aku jalani ini?
Ya, harusnya aku tak perlu heran atau berfikir macam-macam, karna diapun masih bertahan dengan kekasihnya dan tetap mencintainya. Harusnya aku tak perlu cemburu karna aku tahu dari awal dia telah termiliki dan memiliki.  Tapi, tetap saja rasa sakit ini tak bisa aku sembunyikan, rasa cemburuku masih mengebu tak menentu.

Aku rasa cinta memang tak sebanding, aku mencintainya, tapi dia mencintainya(kekasihnya), aku setia, dia berdua. Sering kali aku berontak pada diriku sendiri, mencari keadilan Tuhan kenapa cinta begitu menyakitkan, menyenangkan hanya diawal? Sungguh jika aku mau aku bisa lebih dari yang ia perbuat, mencari lelaki yang bisa menjadikanku satu-satunya, tapi ini bukan soal balas dendam, ini soal ketulusan, aku mencintainya karna cinta itu sendiri dan karna aku meyakini suatu saat nanti dia bisa berubah.
Katakan padaku apakah keyakinanku ini salah? Apakah segalanya akan sia-sia? dan jika iya mungkin memang ini jalan Tuhan, aku harus menjalani, melalui, dan melupakan.
Aku sekarang hanya bisa menjalaninya, bersabar atas waktuku, tetap mencintainya dalam sakitku, dan semoga penantianku ini tidak sia-sia, aku pasrah akan ketentuanmu, Tuhan dan semoga aku bahagia pada akhirnya nanti. Ya, semoga



Rabu, 04 Desember 2013

100 Hari


Aku tak pernah mengenal sosokmu, aku belum sempat memperkenalkan diriku, belum sempat aku menatap matamu, bahkan akupun belum tau siapa namamu. Sedikit banyak aku mengenalmu darinya, dari anakmu, aku hanya mampu menatapmu dari foto didompetnya. Dia memanggilmu Ibu, begitu juga denganku. Aku akan tetap memanggilmu Ibu, meskipun kita berdua belum sama-sama tau, belum pernah bertatap mata sebelumnya, dan semoga engkau tak keberatan dengan panggilanku, Bu.
       

 Apa kabarmu hari ini, Bu? 100 hari sudah engkau pergi dari kehidupan kami, 100 hari sudah engkau meninggalkannya, 100 hari sudah engkau tenang bersamaNya.
Masih terlihat jelas dan melekat mimpi itu. Mimpi dimana kau ingin berbicara padaku, mimpi tiga hari sebelum kepergianmu, mimpi yang terlihat nyata, mimpi yang tak pernah aku menduga sebelumnya, dan mimpi yang aku yakini engkau ingin menyampaikan sesuatu padaku, entah apa itu. Andai engkau tau Bu, dia sering bercerita tentang sosokmu, tentang bagaimana baiknya dirimu, tentang kenakalanya diwaktu kecil. Dengan nada sendu, mata yang berkaca-kaca dia menceritakan segalanya. Aku bahagia mendengar segala ceritanya, aku ikut hanyut dalam kesedihanya disaat dia kehilanganmu, dia begitu mencintaimu, dia begitu sangat kehilanganmu.
          

 Banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu, walaupun aku hanya mampu menuliskannya, menceritankannya dengan bentuk kata dan paragraph ini. Mungkin engkau belum tahu, bahwa aku mencintai dan menyayangi anakmu, Tuan Mawasangka. Mungkin juga engkau belum tahu bagaimana dia merangkai masa depan bersamaku, ingin mempertemukan aku denganmu. Apakah perasaan ini salah? Apakah aku bersalah telah mencintai anakmu, yang mungkin lebih dulu mempunyai seorang kekasih, yang pasti engkau telah mengenalnya. Apakah aku harus melupakanya, dan menghapus segala perasaanku ini?apakah aku memang bodoh Bu, karena aku sudah tahu dia dengan kekasihnya tapi aku membuka hati untuknya? ada rasa sakit yang tak pernah bisa aku tahan sendiri, ada rasa kecewa yang begitu dalam, Bu. Bahkan anakmu telah melihat aku menangis karenanya. Mungkin aku wanita yang akan terus disalahkan, bahkan bisa dibilang tak tau diri, tapi aku yakin, Ibu tahu apa yang aku rasa, Ibu mengerti inginku.
               

 Ibu, aku ingin membahagiakanya, bahkan sebelum kepergianmu, aku ingin menjadikannya satu-satunya dihatiku, meskipun ia tak begitu, aku ingin menjaganya semampuku dan setelah kepergianmu, keinginanku semakin kuat dan bertambah kuat, tapi sekali lagi aku gagal, aku belum bisa dan mungkin takkan bisa membuat dia bahagia.
Mungkin wanita yang masih disampingnyalah yang mampu membuat dia bahagia, mungkin memang aku tak ditakdirkan untuk membahagiakanya, mungkin aku hanya ditakdirkan untuk bertemu, mengenal, dan mencintainya sesingkat ini.
Kata terima kasih dan maaf mungkin sudah terlambat untuk aku sampaikan, Bu. Tapi aku tetap akan mengutarakannya padamu.
                

Terima Kasih Bu, engkau telah melahirkan seorang anak, seorang pria yang bisa aku cintai, yang bisa aku nikmati kehadiranya, walaupun aku juga harus berbagi dengan wanita lain, dan yang tak bisa aku miliki sepenuhnya.
Maafkan aku yang mungkin telah salah, karena sering membuat dia marah, bosan, bahkan sakit hati dengan ucapanku atau tingkah lakuku, maafkan aku juga yang belum bisa membahagiakannya hingga detik ini, maafkan aku, Ibu. Tapi, aku akan berusaha membahagiakannya, menjaganya selagi aku bisa dan aku sanggup.
Tenang dan damai disana bersamaNya Ibu…

                                                                                                Untuk Ibu yang jauh disana...