Rabu, 04 Desember 2013

100 Hari


Aku tak pernah mengenal sosokmu, aku belum sempat memperkenalkan diriku, belum sempat aku menatap matamu, bahkan akupun belum tau siapa namamu. Sedikit banyak aku mengenalmu darinya, dari anakmu, aku hanya mampu menatapmu dari foto didompetnya. Dia memanggilmu Ibu, begitu juga denganku. Aku akan tetap memanggilmu Ibu, meskipun kita berdua belum sama-sama tau, belum pernah bertatap mata sebelumnya, dan semoga engkau tak keberatan dengan panggilanku, Bu.
       

 Apa kabarmu hari ini, Bu? 100 hari sudah engkau pergi dari kehidupan kami, 100 hari sudah engkau meninggalkannya, 100 hari sudah engkau tenang bersamaNya.
Masih terlihat jelas dan melekat mimpi itu. Mimpi dimana kau ingin berbicara padaku, mimpi tiga hari sebelum kepergianmu, mimpi yang terlihat nyata, mimpi yang tak pernah aku menduga sebelumnya, dan mimpi yang aku yakini engkau ingin menyampaikan sesuatu padaku, entah apa itu. Andai engkau tau Bu, dia sering bercerita tentang sosokmu, tentang bagaimana baiknya dirimu, tentang kenakalanya diwaktu kecil. Dengan nada sendu, mata yang berkaca-kaca dia menceritakan segalanya. Aku bahagia mendengar segala ceritanya, aku ikut hanyut dalam kesedihanya disaat dia kehilanganmu, dia begitu mencintaimu, dia begitu sangat kehilanganmu.
          

 Banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu, walaupun aku hanya mampu menuliskannya, menceritankannya dengan bentuk kata dan paragraph ini. Mungkin engkau belum tahu, bahwa aku mencintai dan menyayangi anakmu, Tuan Mawasangka. Mungkin juga engkau belum tahu bagaimana dia merangkai masa depan bersamaku, ingin mempertemukan aku denganmu. Apakah perasaan ini salah? Apakah aku bersalah telah mencintai anakmu, yang mungkin lebih dulu mempunyai seorang kekasih, yang pasti engkau telah mengenalnya. Apakah aku harus melupakanya, dan menghapus segala perasaanku ini?apakah aku memang bodoh Bu, karena aku sudah tahu dia dengan kekasihnya tapi aku membuka hati untuknya? ada rasa sakit yang tak pernah bisa aku tahan sendiri, ada rasa kecewa yang begitu dalam, Bu. Bahkan anakmu telah melihat aku menangis karenanya. Mungkin aku wanita yang akan terus disalahkan, bahkan bisa dibilang tak tau diri, tapi aku yakin, Ibu tahu apa yang aku rasa, Ibu mengerti inginku.
               

 Ibu, aku ingin membahagiakanya, bahkan sebelum kepergianmu, aku ingin menjadikannya satu-satunya dihatiku, meskipun ia tak begitu, aku ingin menjaganya semampuku dan setelah kepergianmu, keinginanku semakin kuat dan bertambah kuat, tapi sekali lagi aku gagal, aku belum bisa dan mungkin takkan bisa membuat dia bahagia.
Mungkin wanita yang masih disampingnyalah yang mampu membuat dia bahagia, mungkin memang aku tak ditakdirkan untuk membahagiakanya, mungkin aku hanya ditakdirkan untuk bertemu, mengenal, dan mencintainya sesingkat ini.
Kata terima kasih dan maaf mungkin sudah terlambat untuk aku sampaikan, Bu. Tapi aku tetap akan mengutarakannya padamu.
                

Terima Kasih Bu, engkau telah melahirkan seorang anak, seorang pria yang bisa aku cintai, yang bisa aku nikmati kehadiranya, walaupun aku juga harus berbagi dengan wanita lain, dan yang tak bisa aku miliki sepenuhnya.
Maafkan aku yang mungkin telah salah, karena sering membuat dia marah, bosan, bahkan sakit hati dengan ucapanku atau tingkah lakuku, maafkan aku juga yang belum bisa membahagiakannya hingga detik ini, maafkan aku, Ibu. Tapi, aku akan berusaha membahagiakannya, menjaganya selagi aku bisa dan aku sanggup.
Tenang dan damai disana bersamaNya Ibu…

                                                                                                Untuk Ibu yang jauh disana...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar