Aku tak pernah mengenal sosokmu, aku belum sempat
memperkenalkan diriku, belum sempat aku menatap matamu, bahkan akupun belum tau
siapa namamu. Sedikit banyak aku mengenalmu darinya, dari anakmu, aku hanya
mampu menatapmu dari foto didompetnya. Dia memanggilmu Ibu, begitu juga
denganku. Aku akan tetap memanggilmu Ibu, meskipun kita berdua belum sama-sama
tau, belum pernah bertatap mata sebelumnya, dan semoga engkau tak keberatan
dengan panggilanku, Bu.
Apa
kabarmu hari ini, Bu? 100 hari sudah engkau pergi dari kehidupan kami, 100 hari
sudah engkau meninggalkannya, 100 hari sudah engkau tenang bersamaNya.
Masih terlihat jelas dan melekat mimpi itu. Mimpi dimana kau ingin berbicara padaku, mimpi tiga hari sebelum kepergianmu, mimpi yang terlihat nyata, mimpi yang tak pernah aku menduga sebelumnya, dan mimpi yang aku yakini engkau ingin menyampaikan sesuatu padaku, entah apa itu. Andai engkau tau Bu, dia sering bercerita tentang sosokmu, tentang bagaimana baiknya dirimu, tentang kenakalanya diwaktu kecil. Dengan nada sendu, mata yang berkaca-kaca dia menceritakan segalanya. Aku bahagia mendengar segala ceritanya, aku ikut hanyut dalam kesedihanya disaat dia kehilanganmu, dia begitu mencintaimu, dia begitu sangat kehilanganmu.
Masih terlihat jelas dan melekat mimpi itu. Mimpi dimana kau ingin berbicara padaku, mimpi tiga hari sebelum kepergianmu, mimpi yang terlihat nyata, mimpi yang tak pernah aku menduga sebelumnya, dan mimpi yang aku yakini engkau ingin menyampaikan sesuatu padaku, entah apa itu. Andai engkau tau Bu, dia sering bercerita tentang sosokmu, tentang bagaimana baiknya dirimu, tentang kenakalanya diwaktu kecil. Dengan nada sendu, mata yang berkaca-kaca dia menceritakan segalanya. Aku bahagia mendengar segala ceritanya, aku ikut hanyut dalam kesedihanya disaat dia kehilanganmu, dia begitu mencintaimu, dia begitu sangat kehilanganmu.
Banyak
hal yang ingin aku ceritakan padamu, walaupun aku hanya mampu menuliskannya,
menceritankannya dengan bentuk kata dan paragraph ini. Mungkin engkau belum
tahu, bahwa aku mencintai dan menyayangi anakmu, Tuan Mawasangka. Mungkin juga
engkau belum tahu bagaimana dia merangkai masa depan bersamaku, ingin
mempertemukan aku denganmu. Apakah perasaan ini salah? Apakah aku bersalah
telah mencintai anakmu, yang mungkin lebih dulu mempunyai seorang kekasih, yang
pasti engkau telah mengenalnya. Apakah aku harus melupakanya, dan menghapus
segala perasaanku ini?apakah aku memang bodoh Bu, karena aku sudah tahu dia
dengan kekasihnya tapi aku membuka hati untuknya? ada rasa sakit yang tak
pernah bisa aku tahan sendiri, ada rasa kecewa yang begitu dalam, Bu. Bahkan
anakmu telah melihat aku menangis karenanya. Mungkin aku wanita yang akan terus
disalahkan, bahkan bisa dibilang tak tau diri, tapi aku yakin, Ibu tahu apa
yang aku rasa, Ibu mengerti inginku.
Ibu,
aku ingin membahagiakanya, bahkan sebelum kepergianmu, aku ingin menjadikannya
satu-satunya dihatiku, meskipun ia tak begitu, aku ingin menjaganya semampuku
dan setelah kepergianmu, keinginanku semakin kuat dan bertambah kuat, tapi
sekali lagi aku gagal, aku belum bisa dan mungkin takkan bisa membuat dia
bahagia.
Mungkin wanita yang masih disampingnyalah yang mampu membuat dia bahagia, mungkin memang aku tak ditakdirkan untuk membahagiakanya, mungkin aku hanya ditakdirkan untuk bertemu, mengenal, dan mencintainya sesingkat ini.
Kata terima kasih dan maaf mungkin sudah terlambat untuk aku sampaikan, Bu. Tapi aku tetap akan mengutarakannya padamu.
Mungkin wanita yang masih disampingnyalah yang mampu membuat dia bahagia, mungkin memang aku tak ditakdirkan untuk membahagiakanya, mungkin aku hanya ditakdirkan untuk bertemu, mengenal, dan mencintainya sesingkat ini.
Kata terima kasih dan maaf mungkin sudah terlambat untuk aku sampaikan, Bu. Tapi aku tetap akan mengutarakannya padamu.
Terima Kasih Bu, engkau telah melahirkan seorang anak, seorang pria yang bisa
aku cintai, yang bisa aku nikmati kehadiranya, walaupun aku juga harus berbagi
dengan wanita lain, dan yang tak bisa aku miliki sepenuhnya.
Maafkan aku
yang mungkin telah salah, karena sering membuat dia marah, bosan, bahkan sakit
hati dengan ucapanku atau tingkah lakuku, maafkan aku juga yang belum bisa membahagiakannya
hingga detik ini, maafkan aku, Ibu. Tapi, aku akan berusaha membahagiakannya,
menjaganya selagi aku bisa dan aku sanggup.
Tenang dan damai disana bersamaNya Ibu…
Tenang dan damai disana bersamaNya Ibu…
Untuk Ibu yang jauh disana...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar